Jumat, 16 Desember 2011

KHUTBAH JUM'AT : Masa Depan Umat Muhammad SAW


 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ باِلْهُدَى وَدِيْنِ اْلحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلىَ الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفىَ بِاللهِ شَهِيْدًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إَلَهَ إِلاَّ اللهُ إِلَهًا وَاحِدًا, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ اللهُ مُبَشِّرًا وَنَذِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ اْلأَبْقىَ. (أَمَّا بَعْدُ) فَياَ عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Suatu ketika Rasulallah SAW membacakan ayat suci al-Quran yang membicarakan tentang kepedulian Nabi Ibrahim AS terhadap umatnya, QS. Ibrahim [14] ayat 36:
رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (إبراهيم: 36)

Artinya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan umat manusia. Barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku; dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ibrahim [14]: 36).

Dalam ayat ini terlihat jelas betapa tingginya kepedulian Nabi Ibrahim terhadap umatnya sehingga ia berani mengatakan siapa yang mengikutinya maka ia termasuk pengikutnya. Sedangkan orang yang menentangnya, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dari sini terlihat bahwa Nabi Ibrahim AS tidak mengutuk umatnya sama sekali. Orang-orang yang tidak mengikuti ajarannya, ia mengembalikan persoalannya ini kepada Allah SWT.
Demikian halnya dengan Nabi Isa AS. Ia sangat peduli dan kasih terhadap umatnya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Maidah [5] ayat 117.

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (المائدة: 117)

Artinya: “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: ‘Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu”. (QS. al-Mâidah [5]: 117)
Dalam ayat tersebut, Nabi Isa AS ditanya oleh Allah SWT “benarkah engkau, wahai Isa, mengajarkan ajaran triniti, tritunggal.” Nabi Isa menjawab, “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang engkau perintahkan kepadaku (untuk mengatakannya)”. Kemudian Nabi Isa menyatakan, sebagaimana dalam lanjutan ayat itu:

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (المائدة: 118)

Artinya “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Mâidah [5] ayat 118).
Ketika Nabi Muhammad membaca dua ayat di atas, tiba-tiba wajahnya nampak berubah, lalu mengangkat tangannya ke atas sambil menangis dan mengatakan “ummatî, ummatî, (umatku, umatku).” Lalu Allah menyuruh malaikat Jibril untuk mendatangi Nabi Muhammad dan menanyakan apa yang membuatnya menangis--padahal Allah lebih mengetahuinya.
Kemudian Jibril mendatangi Nabi Muhammad dan menanyakannya. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Saya sedih oleh karena memikirkan umatku”. Kemudian Jibril kembali menghadap Allah dan melaporkannya. Allah mengatakan, “Katakan kepada Muhammad, ya Jibril, bahwa Kami telah meridlai Muhammad dan umatnya. Kami tidak akan menimpakan kesulitan dan kesesatan kepada dia dan umatnya”.
Inilah sebuah jaminan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, ketika Nabi menangis memikirkan umatnya. Kisah ini diambil dari hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Imam Muslim melalui Tsu’ban dijelaskan bahwa Nabi mengatakan: “Allah pernah menampakkan kepadaku tentang dunia ini. Saya lihat dunia itu begitu luas, mulai ujung timur hingga ujung barat; dan sesungguhnya umatku akan memenuhi dunia ini. Saya diberi dua perbendaharaan, merah dan putih [yakni emas dan perak]”. Lalu Nabi memohon kepada  Allah SWT agar umatnya tidak sampai dibinasakan dan mereka tidak dikalahkan oleh musuh-musuhnya. Kemudian Allah mengabulkan permohonanku dengan pernyataannya, “Ya Muhammad, sesungguhnya Aku telah menetapkan sebuah keputusan yang tidak mungkin berubah. Dan sesungguhnya Aku telah menetapkan bahwa kamu dan umatmu tidak akan hancur dan dikalahkan oleh musuh-musuhmu, kecuali oleh umatmu sendiri”. Hadits ini dikutip dari Kitab Shahih Imam Muslim, dalam bab al-fitan, juz 10, nomor hadits 340.

Jamaah Shalat Jumat rahimakumullah
Hadits di atas menjelaskan tentang masa depan umat Islam. Dalam hadits tersebut tersirat bahwa mereka tidak akan dapat dihancurkan oleh musuhnya atau lawan-lawannya, tetapi mereka hanya dapat diporakporandakan oleh umat Islam itu sendiri. Allah hanya menjamin umat Islam tidak dikalahkan oleh musuhnya, tetapi Allah tidak menjamin bahwa umat Islam itu bisa hancur disebabkan oleh umat Islam sendiri.
Kita lihat dalam perkembangan sejarah dan dunia umat Islam, rusaknya umat Islam ditimbulnya oleh umat Islam sendiri. Perpecahan-perpecahan umat Islam, sejak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, itu disebabkan oleh umat Islam sendiri sehingga terjadi perang Shiffîn. Di berbagai belahan negara di Timur Tengah, seperti Libanon, Afghanistan, dan negara-negara lain, hancurnya umat Islam disebabkan oleh umat Islam sendiri. Bahkan, fenomena di negara kita terlihat betapa kuatnya pertentangan internal antar umat Islam sendiri.
Hadits di atas memperingatkan kepada kita supaya berhati-hati dari intervensi asing yang akan memecah belah kelompok kita.
Dalam rangkaian hadits itu juga dijelaskan bahwa sekiranya seluruh umat Islam bersatu, niscaya seluruh bangsa yang memusuhi Islam tidak akan mampu mengalahkannya, kecuali sebagian kelompok Islam memerangi bagian umat Islam yang lain.
Kalau kita memperhatikan hadits ini maka masa depan umat Islam terserah kepada kita. Kalau menghendaki umat Islam jaya, kita hindari perselisihan, pertengkaran dan berbagai perbedaan. Perbedaan kecil jangan sampai menjadi perselisihan dan permusuhan. Perbedaan kecil itu tidak mungkin dihindari, baik dalam sesama anggota keluarga, relasi [kolega] maupun lainnya. Itu biasa. Namun demikian, hal itu jangan sampai membuat permusuhan di antara kita.
Melihat kenyataan ini, musuh-musuh Islam, baik orang musyrik maupun orang munafik, tahu betul bahwa menghancurkan umat Islam tidak bisa dilakukan dari luar, sebab itu tidak akan berhasil. Akan tetapi, jika dilakukan dari dalam itu mungkin bisa. Oleh karena itu, mereka melakukan strategi konflik-internal antar umat Islam. Ini menunjukkan kita harus hati-hati, waspada, jangan sampai terlalu mudah dipecahkan oleh kaum lain.
Mudahan-mudahan kita dilindungi dari perpecahan sesama kita dan mendapatkan bimbingan serta ridla-Nya di dunia dan di akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَت وَالذِكْرِ اْلحَكِيْمِ . وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَه ُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ, وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

أَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَر. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُلاَ شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَتِهِ وَإِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَر. وَأَشْحَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْبَشَر. أَللّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَر. مَا التَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَر. وَأُذُنُ بِخَبَر. مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَر. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُهَا النَّاس. إِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَر. وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَر. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ وَالْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِه. فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمَا. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَِّبى يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا. اَللّهُمَّ صَلَّى وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرَ أَهْلِ الدَّارَيْن. خُصُوْصًا عَلَى أَوَّلِ الرَّفِيْقِ سَيِّدِنَا أَبِى بَكْرِنِ الصِّدِّيْق. وَعَلَى الصَّادِقِ الْمَصْدُوْقِ. سَيِّدِنَا أَبِى حَفْصٍ عُمَرُ الْفَارُوْق. وَعَلَى زَوْجِ الْبِنْتَيْن. سَيِّدِنَا عُثْمَانَ ذِى النُّوْرَيْنِ. وَعَلَى ابْنِ أَبِى عَمِّهِ الْغَالِب. سَيِّدِنَا عَلِيِّ ابْنِ أَبِى طَالِب. عَلَى السِتَّةِ الْبَقِيَةِ رَضِيَ الله ُعَنْهُمْ أَجْمَعِيْن. وَعَلَى سِبْطَيْهِ الشَّرِيْفَيْن. سَيِّدِيْ سَبَابِ أَهْلِ الدَّارَيْن. أَبِى مُحَمَّدِ الْحَسَنِ وَأَبِى عَبْدِ الله ِالْحُسَيْن. وَعَلَى عَمِّيْهِ الْفَاضِلَيْنِ عَلَى النَّاسِ. سَيِّدِنَا حَمْزَةَ وَسَيِّدِنَا الْعَبَّاس. وَعَلَى بَقِيَةِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّبِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. وِعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات. وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات. أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات. وَاكْتُبِ اللّهُمَّ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا وَعَلَى عَبِيْدِكَ الْحُجَّاجِ وَالْغُزَّاتِ وَالْمُسَافِرِيْنَ. فِى بَرِّكَ وَبَحْرِكَ مِنَ الْمُسْلِمِيْن. مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ أَجْمَعِيْن. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَان. وَلاَ تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفُ الرَّحِيْمِ. عِبَادَ الله. إِنَّ اللهَ يَاْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ. وَإِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغِي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن. فَاذْكُرُ اللهَ الْعَظِيْم يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَذْكُرْكُمْ وَيَهْدِيْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَر.  

Jumat, 04 November 2011

KHUTBAH IDUL ADHA: Ketauhidan Mengangkat Derajat Umat Manusia


Khutbah pertama:

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3) اللهُ اَكبَرْ (×3
 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
 اللهُ اَكْبَرْ ماتحرك متحرك وارتـج. ولبى محرم وعـج. وقصد الحرم من كل فـج. وأقيمت فى هذا الأيام مناسك الحج. اللهُ اَكْبَرْ (3×)  
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ ومن تبع دين محمد. وسلم تسليما كثيرا. فياايها المسلمون الكرام. اوصيكم ونفسى بتقوى الله. واعلموا أن هذا الشهر شهر عظيم. وأن هذاليوم يوم عيد المؤمين. يوم خليل الله إبراهيم أبو ألانبياء والمرسلين. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah,

Alhamdulillah pagi ini kita dapat berkumpul menikmati indahnya matahari, sejuknya hawa pagi sembari mengumandangkan takbir mengagungkan Ilahi Rabbi dirangkai dengan dua raka’at Idul Adha sebagai upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci. Marilah kita bersama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah swt dengan sepenuh hati. Kita niatkan hari ini sebagai langkah awal memulai perjalanan diri mengarungi kehidupan seperti yang tercermin dalam keta’atan dan ketabahan Nabi Allah Ibrahim as menjalani cobaan dari Allah Yang Maha Tinggi.

Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah
Hari ini ini adalah hari yang penuh berkah, hari yang sangat bersejarah bagi umat beragama di seluruh penjuru dunia, dan bagi umat muslim pada khususnya. Karena hari ini merupakan hari kemenangan seorang Nabi penemu konsep ke-tuhidan dalam berketuhanan. Sebuah penemuan maha penting dijagad raya, tak tertandingi nilainya dibandingkan dengan penemuan para santis dan ilmuan. Karena berkat konsep ke-tauhidan yang ditemukan Nabi Allah Ibrahim, manusia dapat menguasai alam dengan menjadi khalifah alal ardh. Setelah Nabi Allah Ibrahim as menyadari bahwa Allah swt adalah The Absolute One, Dzat yang paling Esa, maka semenjak itu juga umat manusia tidak dibenarkan menyembah matahari, menyembah bintang, menyembah binatang, menyembah batu  dan alam. Ini artinya manusia telah memposisikan dirinya di atas alam. Ajaran ke-Esa-an yang diprakarsai oleh Nabi Allah Ibrahim telah mengangkat derajat manusia atas alam se-isinya.Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sesungguhnya tidak berlebihan jika hari ini kita jadikan sebagai salah satu hari besar kemanusiaan internasional yang harus diperingati oleh manusia se-jagad raya. Oleh karena itu hari ini adalah momen yang tepat untuk mengenang perjuangan Nabi Allah Ibrahim as dan upayanya menemukan Allah swt. Bagaimana beliau bersusah payah melatih alam kebathinannya untuk mengenal Tuhan Allah Yang Paling Berkuasa. Bukankah itu hal yang amat sangat rumit? Apalagi jika kita membandingkan posisi manusia sebagai makhluk yang hidup dalam dunia kebendaan, sedangkan Allah Tuhan Yang Maha Sirr berada ditempat yang tidak dapat dicapai dengan indera? Bagaimana Nabi Allah Ibrahim bisa menemukan-Nya? Tentunya melalui berbagai jalan thariqah yang panjang.  Melalui latihan dan penempaan jiwa yang berat. Untuk itulah mari kita lihat rekaman tersebut dalam surat Al-An’am ayat 75-79
وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ(75)  فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ  (76)فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (77)فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ(78)  إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. (75)

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam “ (76)

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." (77)

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (78)
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (79)
Para Hadirin yang dimuliakan Allah
Jika kita lihat dokumen sejarah yang termaktub dalam al-Qur’an di atas, hal ini menunjukkan betapa proses pencarian yang dilakukan Nabi Allah Ibrahim as sangatlah berat. Meskipun pada akhirnya Nabi Ibrahim berhasil menemukan Tuhan Allah Rabbil Alamin, bukan tuhan suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru sekalian alam. Tuhan yang senantiasa berada sangat dekat dengan manusia baik ketika terpejam maupun ketika terjaga. Itulah sejarah terbesar yang dipahatkan oleh Nabi Allah Ibrahim di sepanjang relief kehidupan umat manusia yang seharusnya selalu dikenang oleh umat beragama.
Selain sebagai orang yang menemukan konsep Ketuhaan. Beliau juga salah satu hamba tersukses di dunia yang mampu menaklukkan nafsu dunyawi demi memenangkan kecintaannya kepada Allah Sang Maha Suci. Fragmen ketaatan dan keikhlasannya untuk menyembelih Ismail sebagai anak tercinta yang diidam-idamkannya, adalah bukti kepasrahan total kepada Allah swt. Bayangkan saudara-saudara, Ismail adalah anak yang telah lama dinanti dan diidamkan, Ismail adalah anak tercintanya namun demikian semua itu ditundukkan oleh Nabi Ibrahim as demi memenangkan cintanya kepada Allah swt.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Dua hal di atas yaitu penemuan Ibrahim atas ke-Esaan Allah dan perintah penyembelihan terhadap anak tercinta merupakan satu perlambang bahwa ruang di mana Nabi Allah Ibrahim as. hidup adalah garis batas yang memisahkan antara kehidupan brutal dan kehidupan berpri-kemanusiaan. Penyembelihan terhadap Ismail yang kemudian diganti dengan kambing merupakan tanda bahwa semenjak itu tidak ada lagi proses penyembahan dengan cara pengorbanan manusia (sesajen). Karena manusia adalah makhluk mulia yang tak pantas dikorbankan secara cuma-cuma, meskipun dilakukan dengan suka rela. Allah swt sendiri yang tidak memperbolehkannya, dengan Kuasa-Nya ia ganti Ismail dengan seekor kambing.
Itulah beberapa hal yang harus dikenang dari Nabi Allah Ibrahim as. Sebagai umat manusia yang beriman dan beragama sudah sewajibnya kita mengenang dan menteladani apa yang dilakukan Nabi Allah Ibahim as seperti yang diterangkan dalam al-Baqarah 127:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
Dengan kata lain Allah swt menganjurkan manusia untuk mengingat dan meneladai kehidupan Ibrahim terutama ketika Nabi Allah Ibrahim as merawat dan merekontruksi ka’bah sebagai baitullah. Sehingga berbagai ibadah dan ritual peyembahan kepada Allah swt menjadi kewajiban bagi umat muslim sedunia yang mampu menjalankannya. Itulah ibadah Haji.
Para Jama’ah idhul adha yang berbahagia
Haji meupakan salah satu ibadah yang sarat dengan simbol dan perlambang. Oleh karena itu, jikalau ibadah haji dilaksanakan tanpa mengerti makna yang tersimpan didalamnya sangatlah percuma, karena yang demikian itu hanya menyisakan kelelahan belaka. Kelelahan yang kerontang tanpa kesadaran.
Kaum muslimin dan muslimat, meskipun saat ini kita berada di sini, jauh dari tanah Haram, tidak berarti kita tidak bisa meneladani Nabi Ibrahim. Karena keteladanan itu tidaklah bersifat fisik. Namun sejatinya keteladanan itu berada dalam semangat yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Keteladanan atas ibadah haji dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari ketika kita berinteraksi dengan tetangga, teman, saudara dan umat manusia pada umumnya.
Saudara-saudaraku seiman dan setaqwa
Bila kita tengok bahwa haji dimulai dengan niat yang dibarengi dengan menanggalkan pakaian sehari-hari untuk digantikan dengan dua helai kain putih yang disebut dengan busana ihram. Maka ketahuilah dibalik keseragaman ini tersimpan beragam makna. Pertama bahawa pakaian yang selama ini kita pakai sehari-hari sangat menunjukkan derajat dan status sosil manusia. Oleh karena itu, ketika seorang muslim telah berniat untuk haji dan berniat menghadap-Nya maka segeralah tanggalkan pakaian itu dan gantilah dengan busana Ihram yang serba putih, karena manusia di hadapan Ilahi Rabbi sejatinya tidak berbeda.
Kedua, Pakaian itu tidak hanya apa yang kita pakai namun juga identitas yang menyelimuti diri manusia hendaknya segera diluluhkan ketika menghadap-Nya. Allah tidak akan pernah membedakan antara peabat dan rakyat, antar penguasa dan hamba, antara pedagang dan nelayan. Semua itu dimata Allah swt adalah sama. Seperti putihnya seragam yang membalut raga.
المسلمون إخوة لافضل لأحد على أحد إلابالتقوى (رواه الطبرانى)
Artinya, orang-orang Islam itu satu sama lain bersaudara, tiada yang lebih utama seorangpun dari seorang yang lain, melainkan karena taqwanya (HR. Tabhrani)
Ketiga, Pakaian itu adalah sifat manusia. Ketika seorang muslim telah berniat menghadap Allah Sang Maha Kuasa, hendaklah ia mencopot segala identitasnya. Baik identitas sebagai tikus, buaya, serigala ataupun identitas sebagai kupu-kupu, merpati ataupu kasuwari. Artinya, segala macam sifat yang melekat baik negative maupun positif sebaiknya dihilangkan. Jangan pernah merasa sebagai apa-apa jikalau engkau menghadap-Nya.
Keempat, pakaian itu mengingatkan manusia akan ketakberdayaannya. Nanti ketika menghadap Ilahi Rabbi manusia tidak membawa apa-apa kecuali kain putih yang menemaninya. Sebagai pertanda bahwa sebaiknya manusia hidup dengan sederhana, karena semua akan ditinggalkannya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Selanjutnya Thowaf mengelilingi ka’bah tujuh kali putaran adalah perlambang kedekatan manusia dengan Sang Khaliq. Begitu harunya jiwa manusia ketika lebur mendekatkan diri pada Baitullah, seolah ke-dirian manusia hilang ditelan kebesaran-Nya. Thowaf dapat diartikan hilangnya diri terhanyut dalam pusaran Energi keilahiyan yang tak terkira. Thowaf adalah simbol hablum minallah yang hakiki, bahkan lebih dari itu. Tidak ada lagi habl penghubung antara manusia dan Sang Khaliq. Karena keduanya telah menyatu.
Kemudian sa’i berlari kecil dari shofa ke marwah. Ini merupakan rangkaian setelah Thowaf yang dapat diartikan sesuai perspketif sejarah. Ketika Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail ditinggal oleh Nabi Allah Ibrahim as. Maka ia pun harus bertarung mempertahankan hidup ini dengan mencari air dari bukit Shofa ke Marwa. Kehidupan sarat dengan perjuangan. Usaha menjadi suatu kewajiban bagi manusia. Tiada air yang turun dari langit, namun air itu harus dicari sumbernya. Begitulah kehidupan di dunia ini. Hidup itu suci dan harus dijaga seperti makna hafiah kata Shofa  yaitu kemurnian dan kesucian sedangkan. Namun hidup itu juga cita-cita yang jumawa dan penuh idealism seperti makna kata marwa yaitu kemurahan, memaafkan dan menghargai.
Jika thowaf menggambarkan hubungan dan kemanunggalan manusia dengan Sang Khaliq, maka sa’i menunjukkan bahwa kehidupan haruslah dijalani sesuai dengan hukum kemanusiaan. Berinteraksi, berhubungan dan berkomunikasi dengan sesame. Maka kehidupan ini haruslah menyeimbangkan antara keilahiyahan dan keinsaniyahan.
Ma’asyiral Muslimin yang berbahagia
Selain itu simbolisme dalam ibadah haji juga melekat pada Ka’bah Baitullah. Di sana ada hijir Ismail yang berarti ‘pangkuan Ismail’. Di sanalah seorang Ismail putera Ibrahim yang membangun Ka’bah pernah berada dalam pangkuan sang Ibu Hajar, seorang wanita hitam yang miskin juga seorang budak. Dengan ini Allah swt membuktikan bahwa seorang hamba pun dapat dimuliakanya dengan memposisikan kuburnya disamping ka’bah baitullah. Itu semua karena ketaqwaannya. Ketaqwaan Ibu Hajar yang mampu berhijrah menuju kebaikan dan kemuliaan.
Sedangkan padang Arafah sebagai tempat para haji menunaikan wuquf merupakan ruang luas yang terhampar untuk memasak diri seorang muslim hingga ia mengenal siapa jati dirinya sebagai manusia. Arafah adalah ruang berintrospeksi diri, siapa, dari mana sosok diri itu dan hendak kemana nantinya. Oleh karena itu ruang ini dinamakan arafah yang mempunyai satu asal kata yang sama dengan ma’rifat yaitu mengeatuhi dan mengerti hakikat diri. Diharapkan setelah diramu dalam padang arafah ini seorang diri bisa menjadi lebih arif (bijaksana) dalam mengarungi kehidupan dan mempertimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat seperti yang disimbolkan dalam thowaf dan sa’i.
Dari Arafah menuju Muzdalifah guna mempersiapkan diri dan mempersenjatainya melawan syaithan yang akan dihadapi nanti di Mina. Manusia haruslah selalu waspada bahwa syaitan ada dimana-mana. Karena itulah senjata pemusnahnya tidaklah sesuatu yang besar dan menakutkan. Tetapi cukup dengan kerikil yang kecil sebagai simbol atas kesabaran dan keteguhan hati.
Ma’asyiral Muslimin
Demikianlah uraian dalam khutbah ini semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Dan amrilah kita berdoa kepada Allah swt semoga amal ibadah kita diterima. Semoga kita yang disini diberikan kesempatan mengunjungi tanah haram di lain waktu, seperti cita-cita kita semua. Dan semoga mereka yang berada di sana diberi keselamatan semua. Amien
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Senin, 26 September 2011

Launching Hiren’s BootCD from USB Flash Drive


To launch Hiren’s BootCD from USB flash drive, first of all, your BIOS settings should be configured in order to change the boot order of your computer to USB drive. If you are having problem on changing boot order in BIOS, please refer Change the Boot Order in BIOS document. Please note that some computers may not support booting from USB drive and the steps below only works for the versions of Hiren’s BootCD 9.7 or newer.

Step1: Formating USB Flash Drive

Please note that, all data on your usb flash drive will be lost. Before doing this step, don’t forget to backup your files on the usb flash drive.
1. Connect a 512 MB or above flash drive.
2. Download and run USB Disk Storage Format (34 KB). Follow the steps in the screenshots below:

Step2: Installing Grub4Dos to USB Flash Drive

Download grub4dos.zip (187 KB) to desktop. Follow the steps below:
1. Right click to the zip file and click 'Extract All...'
2. Click Next
3. Click Next to extract archive contents
4. Click Finish
Now open ‘grub4dos’ folder created on your desktop. Run ‘grubinst_gui.exe’ inside of grub4dos folder and follow the steps below:
1. Run grub4dos
2. Click 'Run' on if you face with a Security Warning window
3. If you are not sure which disk is your USB Flash Drive, select the drive with the same size with your USB flash drive.
4. Installation of grub4dos completed. Press Enter to close the window.

Step3: Copy Files to USB Flash Drive

1. Put Hiren’s BootCD (9.7 or newer) into the CD Drive.
2. Copy everything from CD to USB Flash Drive.
3. Copy grldr and menu.lst (from HBCD folder of the CD) to the usb drive’s root folder. Finally contents of your USB Flash Drive should look like as below:
Final View of USB Flash Drive Contents